Puisi Abdullah Wong Untuk Prof Mulyadi

MULYADHI DI MATA MURID-MURIDNYA
(Seri ke-5)

Panorama
Mulyadhi Kartanegara

Oleh
Abdullah Wong

 
Budayawan dan Novelis MADA
dan Mata Penakluk



Engkau sungguh Mulya dan Adhi
Engkau juga Karta dan Negara

Kali pertama membaca namamu pada sampul buku Panorama itu, aku terpesona
Tapi bukan nama Mulyadhi yang tersimpan di hati
Aku malah terngiang pada Sri Maharaja Kertanagara putra Wisnuwardhana
Raja gagah perkasa yang berkuasa di penghujung kerajaan Singhasari.

Imaji pikiranku lalu beringsut pada Raden Wijaya,
menantu Sri Maharaja Kertanagara sekaligus pendiri Majapahit nan digdaya
Lalu dengan cepat isi pikiranku diserbu oleh nama Gajahmada
begitu juga dengan falsafah luhur yang digenggam Garuda, Bhinneka Tunggal Ika

Mungkin engkau bukan Kertanegara
Tapi engkau Kartanegara

Engkau memang Mulya
Tapi engkau juga Adhi.

Dan engkau, memang Mulyadhi Kartanegara.

***

Adakah nama itu hanya kebetulan semata?
Adakah nama itu hanya mimpi indah yang dipancang pada bintang oleh orangtua?
Adakah nama itu hanya identitas pembeda yang dilekatkan pada musamma?
Atau mungkinkah nama itu menyiratkan pesan rahasia yang dikehendaki semesta?

Kitab Panorama itu, adalah karyamu yang pertama kubaca
Pemberian seorang sahabat, sekaligus tetangga dan teman bercanda
"Buku ini harus kamu baca," demikian ia berpesan penuh percaya
Aku pun terima dengan segala sangsi, harapan, dan tanda-tanya
Ah, Kitab Panorama

Aku membaca Kitab Panorama
dengan segenap pesona yang memukau lantaran kandungannya
yang disuguhkan dengan rajutan bahasa lugas dan sederhana
namun mampu mengurai kerumitan alam pikir dan alam bahasa.
Mungkin ini hanya perasaanku yang terlalu mengada
Membaca baris-baris bahasamu, aku seperti diseret aneka mantra
sehingga tanpa sadar aku tak mau melepaskan bukumu meski lapar menggoda
Bahkan aku tuntaskan bukumu itu, tanpa bilangan candra, apalagi warsa
Tak genap satu hari, aku khatamkan bukumu itu dengan menyisakan sebuah tanya,
siapakah Mulyadhi Kartanegara?

Sebuah nama yang pemiliknya konon berdiam di kota Jakarta
Sementara aku hanya berdiam di pinggir desa

Meski begitu, namamu seperti memanggil dan meronta
bahwa di satu hari, suratan takdir memastikan kita akan bersua

Dan entah kenapa aku sudah cukup puas dan lega
meski belum bertatap muka, tapi batin kita begitu akrab terasa

***
Engkau Mulya dan Adhi, menyatu-padu secara harmonis
Saat itu engkau bercerita dalam tangis yang menjadi gerimis
Engkau bercerita untuk mencoba mencari jawab atas seribu tanya filosofis
Engkau bercerita, betapa imanmu terguncang, bimbang, bahkan nyaris pesimis,
Engkau bercerita, betapa pesona eksistensialmu remuk hingga perlahan makin terkikis
Akhirnya engkau pun terduduk pasrah, masih dalam guyuran sejuk rintik gerimis
Dalam gerimis yang sejuk itu engkau pun terus membaca dan menulis.

Ketika hatimu makin tersayat, dan bibirmu makin kelu,
satu persatu mereka menghampirimu untuk bertamu.

Jika Ibnu Sina datang membawa ribuan buku,
justru sang Rumi menghampirimu dengan tanpa sepatu.

Ketika Suhrawardi, Mulla Shadra, bahkan Iqbal datang tersipu
justru Ibnu Arabi menghampirimu dengan jubah bludru bertongkat kayu.

Maka, dalam lipatan waktu,
engkau pun menyusun ulang deretan rak buku
engkau merapikan barisan sekularisme yang beku
ateisme yang kaku
reduksionisme yang terburu-buru
atomisme yang semu
materialisme yang menipu
naturalisme yang palsu
hingga humanisme yang cemburu.
Selepas engkau merapikan buku-buku itu,
engkau pun menyingsingkan lengan baju
lalu menyalami para guru tanpa bimbang dan ragu.

Saat itu,
engkau makin yakin betapa rekonstruksi filsafat Islam itu perlu dan mesti dituju
demi menyongsong kelahiran Renaisans Islam yang syahdu.

***

Ketika engkau menyiapkan mimpi-mimpi indahmu
Aku baru mulai membuka dan mengeja buku-buku
Ketika aku tak mampu mengeja dan membaca buku-buku itu
dengan sabar dan telaten engkau bersedia membimbingku

Tentu tanganmu tak selalu langsung menyentuhku
karena memang kita seringkali dibatasi ruang dan waktu
Namun lewat tulisan yang engkau guratkan pada buku-bukumu
aku dapatkan ragam lentera yang menerangi segenap penjuru.

Ketika aku gelisah tentang bagaimana kedudukan akal,
engkau menjelaskan bagaimana kedudukan ilmu agama dan ilmu rasional.
Ketika aku bertanya tentang untaian kata-kata indah dalam bait puisi,
engkau malah menjelaskan bagaimana rindu mendalam yang dipendam Sang Rumi.
Ketika aku bertanya bagaimana memahami hakikat alam yang sejati,
engkau malah mengajak diriku untuk menyambangi kediaman Ibn Arabi.

Rasanya, tak ada pertanyaan apapun yang harus aku ajukan lagi,
karena setiap tanya, sebenarnya telah menyimpan jawaban sendiri, di hati.

Tanpa engkau ketahui, aku pun melangkah pasti
demi menyusuri jalan terjal nan sepi yang sebelumnya engkau jejaki

Ya, dirimu telah lama menyusuri jalan sepi itu
jalan yang tiada siapa pun kan memuji dirimu
jalan dimana mereka tak kan peduli pada langkah dan keringatmu
jalan berduri yang merobek baju-baju indahmu
jalan lumpur berdebu yang memastikan kotor tubuhmu.

Aku sungguh menyaksikan, betapa engkau masih menempuh jalan sepi itu

jalan bercabang yang terkadang membingungkan langkah
Jalan yang dipenuhi intan permata tapi tidak kau jarah
jalan dimana berdiri aneka bidadari tapi bukan untuk kau jamah
jalan yang membuatmu terhina, terluka, bahkan berdarah
jalan yang tak memiliki ruang untuk meratap dan berkeluh kesah
jalan sepi, yang kan membuat dirimu tertawa namun matamu tetap basah

***

Sementara aku masih di sini,
menungggu kehadiran karya-karyamu yang tiada berhenti
yang membawakan pesan-pesan pada segenap kawan insani

Sementara aku masih di sini,
membaca dan merenungi jejak pilihanmu dari dulu hingga kini
Hingga tak bisa kutampik betapa aku harus mengakui
bahwa dirimu hadir padaku untuk menyinari dan menjadi inspirasi

Sementara aku masih di sini
Menyusuri jalan berkabut yang pekat penuh misteri
Tak ada cahaya, kecuali kunang-kunang yang setia menemani
Tak ada suara, kecuali jangkrik yang sumbang menyanyi
Tak ada tegur sapa, kecuali angin dingin yang menyelimuti
Tak ada jejak kaki, kecuali tapak kakimu yang pernah melintasi

Aku di sini masih menunggu,
seperti elang yang mengintip tanda gerimis dari awan kelabu,
aku membaca halaman demi halaman celoteh imajinalmu.
Meski seringkali aku tak paham lantaran kebodohanku,
namun setiap pesanmu, dapat mengguyur dahaga ilmuku.

***

Ketahuilah wahai Mulya yang Adhi,
aku masih di sini...
membuka diri dan membuka hati,
demi siraman ilmu dan curahan hikmah tiada henti

Semoga, curahan cahaya Ilahi senantiasa menyirami
pada hatiku yang gersang dan angkuh diri
pada hatiku yang gelap dan bertabur duri-duri dengki
pada hatiku yang rapuh dan dihinggapi aneka ilusi

Ketahuilah wahai Mulya nan Adhi,
aku masih di sini...
duduk di serambi imaji ditemani sentuhan puitis Hamzah Fansuri
berbantal tebal karya-karyamu yang segar, bernalar penuh arti.

Dan jika tiba saatnya nanti,
kita pasti berkunjung menemui Rumi dan Ibn Arabi
lalu menjadi musafir, menyusur gurun dan samudera tiada bertepi

demi mencium tangan Sang Nabi.

***



Abdullah Wong

0 Response to "Puisi Abdullah Wong Untuk Prof Mulyadi"

Post a Comment

SILAHKAN KOMEN