Semua benda memiliki Jiwa

Dalam pemikiran jalaluddin Rumi, bahkan semua partikel alam ini berjiwa. Semua berevolusi menuju kesempurnaan, menuju Tuhan sebagai perwujudan cinta terhadapNya. Misalnya, emas adalah wujud evolusi sempurna dari batu biasa. Ia berevolusi menjadi emas, karena bukti cinta kepada Allah yang merepresentasikan sifat jamal Tuhan. Jadi emas dicintai manusia bkn karena dirinya, sebab dirinya adalah batu, tetapi karena emas merepresentasikan sifat jamal Tuhan.

Semua makhluk tanpa kecuali memiliki jiwa, yusabbihu lahu ma fi al samawat wa al ardh. Tidak terkecuali dengan apa yang dimakan manusia. Dan setiap jiwa memiliki potensi/al quwwah masing2.

Berikut ini adalah analisis awam saya, ibnu sina tidak mengatakan ini. Setiap yang jiwa berpotensi mendominasi tubuh. Jiwa apa yang dimakan manusia, salah satunya. Sehingga makanan haram misalnya, dapat mempengaruhi karakter yang mengkonsumsinya.

Dari sini saya menemukan landasan rasional praktik2 tarekat tertentu, seperti tradisi puasa mutih. Saya lihat iti sebagai upaya meminimalisir dari dominasi pengaruh buruk jiwa tertentu.

Filsafat tidak menyediakan aturan teknis, seperti bagaimana cara mendidik jiwa. Tetapi di klasifikasi jiwa rasional, akal teoretis berperan dalam upaya menemukan kebenaran sejati, sementara akal praktis berperan untuk mengawal anggota badan supaya hidup selaras dengan pengetahuannya. Dengan ini, misalnya, hidup jujur merupakan pilihan rasional bagi jiwa manusia. Orang yang berakal adalah orang yang tidak hanya berpikir benar tetapi juga bertindak benar.

Aturan teknis untuk mendidik jiwa, disediakan dalam tasawuf melalui tahapan2 maqamat

0 Response to "Semua benda memiliki Jiwa"

Post a Comment

SILAHKAN KOMEN